Hornet berperan sebagai pesawat tempur pengawal, pertahanan udara, perusak pertahanan udara musuh, larangan udara, pesawat serang antigerilya, dan pesawat intai. Keserbagunaan dan keandalannya telah membuktikannya menjadi aset bernilai pada sebuah kapal induk, meskipun ia dikritik karena kelemahannya dalam hal jelajah dan daya muat dibandingkan dengan yang dimiliki pesawat-pesawat mutakhir pendahulunya, seperti F-14 Tomcat dalam hal peran tempur dan serang-tempur, dan A-6 Intruder dan A-7 Corsair II dalam hal peran serang.[3]
F/A-18 Hornet menjadi dasar bagi pengembangan F/A-18E/F Super Hornet, yakni pesawat tempur rancang-ulang F/A-18 yang lebih besar dan evolusioner. Dibandingkan dengan Hornet, Super Hornet berukuran lebih besar, lebih berat, dan terdapat perbaikan dalam hal daya jelajah dan daya muatnya. F/A-18E/F mulanya diusulkan sebagai alternatif bagi pesawat tempur yang sama sekali baru untuk menggantikan pesawat serang yang masih bertugas seperti A-6. Varian yang lebih besar juga diarahkan untuk menggantikan F-14 Tomcat yang sudah hampir uzur, dengan demikian dapat saling berganti-tugas dengan Hornet di Angkatan Laut Amerika Serikat, dan bertugas pada rentang peran yang lebih luas meliputi pengisian bahan bakar di udara, dan anjungan pengacau kelistrikan (electronic jamming platform)
| Tipe | Pesawat tempur serbaguna |
| Produsen | McDonnell Douglas (Boeing) Northrop (Northrop Grumman) |
| Terbang perdana | 18 November 1978 |
| Diperkenalkan | 7 Januari 1983 |
| Status | Aktif |
| Pengguna | Angkatan Laut Amerika Serikat Korps Marinir Amerika Serikat Angkatan Udara Australia Angkatan Udara Spanyol |
| Jumlah produksi | F/A-18A–D: 1.480[1] |
| Harga satuan | $29–57 juta (2006)[2] |
| Acuan dasar | Northrop YF-17 |
| Varian | McDonnell Douglas CF-18 Hornet F-18 HARV Boeing X-53 |
Asal mula
Pengembangan F/A-18 adalah hasil dari Program Percobaan Tempur-Serang Angkatan Laut Amerika Serikat (VFAX) untuk mendapatkan pesawat tempur serbaguna untuk menggantikan A-4 Skyhawk, A-7 Corsair II, F-4 Phantom II dan sebagai pelengkap bagi F-14 Tomcat. Laksamana Madya Kent Lee, yang kelak menjadi Kepala Komando Sistem Udara Angkatan Laut (NAVAIR), adalah pendukung utama VFAX guna melawan pembangkang kuat dari banyak perwira Angkatan Laut, termasuk Laksamana Madya William D. Houser, wakil kepala operasi angkatan laut untuk peperangan udara - penerbang kelas tertinggi di angkatan lautPada bulan Agustus 1973, Kongres Amerika Serikat memerintah Angkatan Laut untuk mencarikan alternatif murah bagi F-14. Grumman mengusulkan pesawat F-14 yang disederhanakan dan diberi nama F-14X, sedangkan McDonnell Douglas mengusulkan F-15 varian angkatan laut, kedua-duanya hampir semahal F-14.[6] Pada musim panas itu, Menteri Pertahanan Schlesinger memerintahkan Angkatan Laut untuk memberi penilaian pesawat pesaing di Program Pesawat Tempur Ringan Angkatan Udara Amerika Serikat (LWF), General Dynamics YF-16 dan Northrop YF-17.[7] Kompetisi Angkatan Udara mensyaratkan pesawat tempur siang-hari tanpa kemampuan menyerang. Pada bulan Mei 1974, Komite Pelayanan Militer Dalam Negeri mengalihkan dana sebesar $34 juta dari program VFAX ke program baru, yaitu Pesawat Tempur Udara Angkatan Laut (NACF),[7]
Spesifikasi (F/A-18C/D)
Ciri-ciri umum- Kru: F/A-18C: 1, F/A-18D: 2 (pilot and weapons system officer)
- Panjang: 56 ft (17.1 m)
- Rentang sayap: 40 ft (12.3 m)
- Tinggi: 15 ft 4 in (4.7 m)
- Luas sayap: 400 ft² (38 m²)
- Airfoil: NACA 65A005 mod root, 65A003.5 mod tip
- Berat kosong: 24,700 lb (11,200 kg)
- Berat isi: 37,150 lb (16,850 kg)
- Berat maksimum saat lepas landas: 51,550 lb (23,400 kg)
- Mesin: 2 × General Electric F404-GE-402 turbofans
- Dorongan kering: 11,000 lbf (48.9 kN) masing-masing
- Dorongan dengan pembakar lanjut: 17,750 lbf (79.2 kN) masing-masingKinerja
- Laju maksimum: Mach 1.8 (1,190 mph, 1,915 km/h) at 40,000 ft (12,190 m)
- Radius tempur: 330 mi (290 NM, 537 km) on hi-lo-lo-hi mission
- Jangkauan feri: 2,070 mi (1,800 NM, 3,330 km)
- Langit-langit batas: 50,000 ft (15,000 m)
- Laju tanjak: 50,000 ft/min (254 m/s)
- Beban sayap: 93 lb/ft² (450 kg/m²)
- Dorongan/berat: >0.95
- Senjata api: 1× 20 mm (0.787 in) M61 Vulcan nose mounted gatling gun, 578 rounds
- Titik keras: 9 total: 2× wingtips missile launch rail, 4× under-wing, and 3× under-fuselage dengan kapasitas 13,700 lb (6,215 kg) external fuel and ordnance
- Roket:
- Rudal:
- Air-to-air missiles:
- 4× AIM-9 Sidewinder or 4× AIM-132 ASRAAM or 4× IRIS-T or 4× AIM-120 AMRAAM, and
- 2× AIM-7 Sparrow or additional 2× AIM-120 AMRAAM
- Air-to-surface missiles:
- Anti-ship missile:
- Air-to-air missiles:
- Bom:
- JDAM Precision-guided munition (PGMs)
- Paveway series of Laser guided bombs
- Mk 80 series of unguided iron bombs
- CBU-87 cluster
- CBU-89 gator mine
- CBU-97
- Mk 20 Rockeye II
- B61/Mk57 nuclear bombs[16]
- Others:
-
- SUU-42A/A Flares/Infrared decoys dispenser pod and chaff pod or
- Electronic countermeasures (ECM) pod or
- AN/AAS-38 Nite Hawk Targeting pods (US Navy only), to be replace by AN/ASQ-228 ATFLIR or
- LITENING targeting pod (USMC, Royal Australian Air Force, Spanish Air Force, and Finnish Air Force only) or
- up to 3× 330 US gallon Sargent Fletcher drop tanks for ferry flight or extended range/loitering time.
- Hughes APG-73 radar
- ROVER (Remotely Operated Video Enhanced Receiver) antenna for use by US Navy's F/A-18C strike fighter squadrons
Tidak ada komentar:
Posting Komentar